badge Bocah Renyah: Berkah Indah Kala Hujan Deras

Monday, August 31, 2015

Berkah Indah Kala Hujan Deras


Bagi yang telah dikaruniai buah hati, bila ditanya berkah terhebat apa yang pernah didapatkan, sebagian besar akan menjawab : Anak. Begitu pun denganku, dua buah hati yang terlahir dengan rentang waktu 5 tahun telah memberikan kebahagiaan luar biasa. Lalu, apa kaitannya dengan berkah indah kala hujan deras?


Di balik kehadiran seorang putri cantik dan seorang putra ganteng itu, banyak sekali cerita yang cenderung pedih. Sebenarnya ingin kulupakan saja, toh sekarang justru lebih terasa berkah indahnya dibandingkan kisah dukanya. Apa yang terjadi di masa lalu jelas tak sebanding dengan kebahagiaan yang kini telah dirasakan oleh keluarga kecilku.

Saat hamil anak pertama, aku terpaksa berhenti bekerja karena kontrak kerja tidak diperpanjang. Hmm... error banget sih soalnya dulu, hobinya ngelawan perintah atasan. Mana ada yang mau punya bawahan begitu hahahahaa... Thank God tidak lama bekerja di sana, karena pas keluar itu memang kondisi sedang hamil 4 bulan dan terserang sariawan parah. Seluruh mulut seakan merongrong diriku. Mulai dari langit-langit, dinding mulut kiri dan kanan, hingga permukaan lidah, semuanya berbercak putih-putih dan melepuh. Kata dokter sih terkena bakteri, tapi bakteri apa coba bisa sampe begitu. 

Saat telah sepuluh tahun lebih berlalu, baru kini kupahami bahwa memang itu sinyal kuat dari Yang Kuasa agar aku lebih memperhatikan calon jabang bayiku. Kondisi pekerjaan saat itu memang lumayan berat. Pukul 07.00 sudah harus masuk kantor dan malam harinya rata-rata pulang sekitar pukul 20.00. Hebat banget yak jam kerjanya ;)

Kondisi pabrik dimana aku bekerja saat itu memang membuatku harus berada di lokasi kerja sepanjang hari. Bila sedang tidak berbadan dua sih tidak masalah, malah happy saja ngejogrok di kantor yang bernuansa elegan. Namun saat lekasan alias hamil muda, bawaannya kan capek melulu tuh. Ditambah lagi terserang sakit seperti tadi. Pas banget deh kalau diharuskan beristirahat olehNya. Maka aku pun menjalani sisa usia kandunganku dari 4 bulan hingga melahirkan di rumah saja. Lebih ayem rasanya.

Lain lagi dengan kehamilan anak kedua. Saat itu aku telah bekerja di perusahaan lain. Dengan usia kandungan yang makin menua, aku tetap masuk kantor. Rencana mau cuti mepet dengan HPL saja biar maksimal bersama debay nantinya.

"Mba, sana loh buruan cuti. Nyesek banget liat perutmu segede itu riwa-riwi di pabrik"

Hadeeehh...teman-teman kantor memang ajaib deh, udah bosen aja melihatku beredar di pabrik. Memang saat hamil anak kedua ini 'pertumbuhan'ku pesat sekali. Semua orang yang melihat pasti merasakan sensasi berat, seakan-akan mereka yang lagi hamil saja :) 

Bayi yang kulahirkan memang cukup besar. Putraku terlahir dengan berat 4 kg secara normal. Tak ada yang tau bahwa di balik besarnya bobot bayiku itu tersimpan jutaan rasa pedih yang mendera. Di kehamilan kedua itu aku terpaksa hengkang dari tempat kubernaung selama 6 tahun usia pernikahan. Bakalan ala ala sinetron deh kalau kuceritakan :)  Intinya cobaan yang pedih banget deh. Aku menjalani kehamilan kedua ini dengan deraan rasa sedih yang cukup deras.

Bila di kelahiran putri sulungku masa kontraksi berlangsung sekitar 8 jam, untuk kehamilan kedua ini sejak pukul satu dini hari rasa badan sudah tak keruan. Mau masuk ke klinik bersalin kok ya ajaib sekali jamnya. Masih kuat kutahan hingga jelang subuh. Pukul 04.00 aku dibonceng suami menuju ke klinik yang tak jauh dari rumah. Ternyata masih bukaan satu. Kami pun kembali pulang.

Denyut demi denyut kontraksi kurasakan hingga akhirnya pukul delapan pagi aku minta diantarkan kembali ke klinik. Sudah bukaan tiga, dan aku terlalu capek untuk kembali ke rumah. Mana tadi ke kliniknya diboncengin naik motor, pas hujan deras pula. 

Anakku sayang, kamu hebat loh, kuat ibu ajak hujan-hujanan kayak gitu. Apa mungkin kamu juga udah pengin hujan-hujanan ya Nak, sampai-sampai belum genap satu jam ibu istirahat di bed klinik, kamu sudah minta keluar. 

yippieee... helo duniaaaaaa
Jelas saja rasanya aduhai loh Nak, lha wong dari bukaan 3 sampai ke bukaan penuh kok cuma setengah jam lebih sedikit. Mana dokternya masih di rumah sakit, padahal kepala dan rambutmu sudah mengintip-intip. Akhirnya kelahiran anak keduaku ini ditangani oleh bidan. Aku tak perduli, yang penting lahir aja deh :)  Dulu waktu kelahiran Kakak Vivi juga ditangani bidan meskipun aku melahirkan di rumah sakit.


10 November 2009, lahirlah anak keduaku Faris. Semua kesedihan yang kurasakan sepanjang hamil bocah ganteng ini langsung sirna, tersapu derasnya kebahagiaan yang datang seiring dengan derasnya curah hujan saat itu. Takjub sekali kupandang putraku yang bikin aku porak-poranda dan dijahit ala obrasan :)

Alhamdulillah, aku bisa melahirkan kedua kali secara normal. Cukup sebentar baringan, aku sudah bisa jalan-jalan kesana kemari dan memangku putra kesayanganku itu. Tanpa bermaksud menyisihkan putri sulungku dari daftar kebahagiaan, sungguh kehadiran si ganteng ini menghadirkan sensasi bahagia yang luar biasa. Deraian air mata haru tak kunjung henti saat mengingat kepedihan yang harus kujalani saat menjalani kehamilan kedua ini. Berkah indah yang mampu menghapus semua rasa duka yang awet terpendam hingga saat kelahiran. 

baby Faris ginak-ginuk
Putraku sayang, tau nggak kalau kehadiranmu itu sungguh menjadi penawar segala keburukan hati yang ibu miliki? Tiba-tiba ibu bisa ikhlas dengan semua yang telah terjadi di masa lalu, asalkan bisa menimang dan memandangi wajahmu. Semua kejadian yang ibu anggap buruk itu mungkin sebenarnya bukan masalah penting, hanya saja ibumu ini belum sanggup menikmati lika-liku kehidupan yang kadang-kadang memang pelik dan membutuhkan kelegawaan.


Ah, sudahlah. Semuanya jadi nggak penting Nak. Ibu hanya ingin bahagia saja, mulai dari kamu lahir sampai nanti kamu besar, remaja, hingga beranjak dewasa. Ibu hanya ingin Kakak dan Adek menjadi anak-anak yang bahagia. Mana boleh ibu membuat kalian, berkah terindah yang ibu miliki, menjadi anak-anak yang suka sedih dan cengeng kayak ibu dulu. Nggak asyik banget kan yaaaa... Mau dibawa kemana negeri tercinta ini kalau generasi mudanya kayak ibu semua.

video
 rekaman video Faris waktu masih umur 2 bulanan,
burem karena direkam cuma pake E51 :)
gemesss GMZZ GMZZZZZ....

Tak terasa sebentar lagi si ganteng ini sudah mau 6 tahun loh. Iya loh om-tante, pakdhe-budhe, yangkung-yangti, mbak-mas semua.... Faris ntar November kan sudah mau 6 yak. Boleh sini ditunggu kadonya *diguyang teh

canggih memanjat di usia 16 bulan :)

Aku pun akhirnya mendapatkan pelajaran hidup yang sangat berharga. Sekejam apapun kita menilai orang lain, ternyata masih lebih kejam diri kita sendiri. Ya, kejam dan dzolim pada diri sendiri dengan tidak mau bersyukur atas tiap tetes nikmat yang dirasakan. Malah sibuk saja memetakan kejelekan orang lain dan lihai sekali menganggap diri sendiri sebagai korban. Korban yang patut dikasihani. Duh... payah deh. Penginnya sih nggak mau gitu lagi ah. Pengin bahagia saja, tak ingin sibuk sebagai 'korban' ;)




17 comments:

  1. Semoga fariz besok 2nya mengerti berapa besar perjuangke bunda

    ReplyDelete
  2. gimana rasanya punya anak :D saya masih abg eeaa :D

    ReplyDelete
  3. Fotonya dek Faris yg gundul itu nggemesin pwooll ;)

    ReplyDelete
  4. Semoga fariz besok 2nya mengerti berapa besar perjuangke bunda

    ReplyDelete
  5. Fariiiiz...perjuanganmu maaak ..semangaaat...selalu ada pelajaran berharga dan berkah di balik semua cerita seru yang harus kita jalani.

    Thanks for joining my #BlessfulAugust yaaa mak...bon courageeee :)

    ReplyDelete
  6. Selalu ada pelajaran yg bisa diambil dr setiap kejadian yo, dan itu hanya berlaku bagi orang2 yg mau berfikir. Hoho.. Congrats mba un, naik kelas terus nih dlm kehidupan. Btw, kok podo yo, akubjg diseneni konco kerjo sabendino, kon muleh cuti. Haha

    ReplyDelete
  7. wkwkwkwk iyo saiki manjat2 pisan raffi seumuran itu hihihi
    coba mau nambah lagi nggak mbakkkk...adek faris :P

    ReplyDelete
  8. Fariiizz... mbok gludak manjat manjat, leeee >:(

    ReplyDelete
  9. Faris tuh baru mau 6 tahun tapi bongsor banget ya Dek Uniek... kirain tuh Faris sudah 7 tahun gitu hehehe...

    Alhamdulillah.... kehadiran buah hati tercinta menjadi pengobat segala rasa duka yang sempat meliputi hari2 ya. Semoga kebahagiaan selalu menjadi berkah dek Uniek dan keluarga. Aamiin

    ReplyDelete
  10. Faris udah pinter beratraksi nih naik-naik rak, hati-hati jatuh. Wajahnya gak berubah ya mbak

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah...anak adalah rezeki juga pula fitnah. Anak mempunyai rezeki sendiri. Sebagai orang tua punya kewajiban untuk menjemput rezeki tersebut. Semoga mereka menjadi anak yang sholeh. Amien

    ReplyDelete
  12. wah...bahagianya dititpin mmongan 2, laki dan perempuan lagi. semoga amanah bu, bisa ngerawat putra putri jadi anak sholeh sholehah kelak.

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah ya mbak, sudah diberi titipan sama Allah. Semoga anak-anak menjadi anak yang berbakti kepada orang tuanya.

    ReplyDelete
  14. wah lucu, semoga menjadi anak yang soleh

    ReplyDelete
  15. Semoga menjadi anak yang soleh iya bunda !!!

    ReplyDelete